Tips Agar tak Nyasar di Tanah Suci 

SEORANG calon haji (calhaj) asal Kota Bandung, Muhammad Yazid (38), Rabu (28/11) berpesan kepada temannya untuk mencarikan peta Kota Madinah dan Kota Mekah. Sementara itu, temannya--yang juga calhaj asal Kota Bandung--Asep Hidayat (43) mengaku sudah punya kedua peta tersebut.

PINTU-PINTU Masjid Nabawi pun sering membingungkan jemaah. Jika tidak hafal, bisa-bisa saat keluar mesjid, nyasar.*ENDAY SUDIYAT/”PR”

Persoalan peta Kota Mekah dan Madinah ini, menurut pembimbing utama BPU Haji dan Umroh “Safari Suci”, Dr. K.H. Miftah Faridl, boleh merupakan hal yang sepele. Akan tetapi, sesungguhnya bermakna penting.

“Idealnya memang setiap calhaj punya peta atau setidaknya pembimbingnya memiliki peta dan paham tentang keadaan di tanah suci,” tutur K.H. Miftah Faridl.

Mengapa perlu peta Kota Mekah dan Madinah?

Pembimbing Haji Qiblat Tour, Ir. H.D. Sodik Mudjahid, M.Sc. memandang, peta menjadi petunjuk jalan apabila calhaj ingin pergi ke suatu tempat di tanah suci. “Umumnya, warna dan bentuk bangunan pemondokan di tanah suci mirip sehingga bisa membingungkan calhaj,” kata Sodik.

Bagaimana ikhtiar agar tidak tersesat atau mudah kembali ke pemondokan setelah salat dari Masjid Nabawi atau Masjidilharam?

Pembimbing haji Khalifah Tour, H. Rustam Sumarna me­nyarankan agar calhaj mengingat bentuk dan warna bangunan yang mencolok. Misalnya, ada hotel yang warna dan bentuk bangunannya berbeda dibandingkan dengan yang lain.

Berkaitan hal ini, wartawan “PR” di Madinah, Nanang Setiawan mengemukakan, ada sejumlah calhaj yang tersesat atau bingung tatkala akan kembali ke pemondokannya seusai salat di Masjid Nabawi.

“Sebagian besar jemaah calhaj Indonesia mungkin nasionalismenya terlalu tinggi sehingga cinta bahasa Indonesia. Akibatnya, sulit menghafal kata-kata atau kalimat dalam bahasa Arab maupun Inggris,” ujar Nanang sambil tertawa tatkala dihubungi melalui saluran telefon internasional dari Madinah, Rabu (28/11).

Dikemukakannya, sebenarnya ada satu hal yang memudahkan jemaah Indonesia bila tersesat yakni bicaralah pakai bahasa Indonesia kepada warga setempat atau pedagang. Sebab, umumnya pedagang di tanah suci memiliki pelayan yang bisa berbahasa Indonesia.

“Cari saja toko yang ada pelayan berwajah Indonesia. Kalaupun tidak ada, nekat saja berbahasa Arab dengan gaya tarzan. Maksudnya, pakai bahasa gerak tangan atau tunjukkan kartu alamat pemondokan atau hotel,” ujar Nanang.

Bagaimana seandainya tidak ada pelayan toko yang bisa berbahasa Indonesia dan kurang berani berbahasa Arab gaya tarzan?

“Tenang saja. Sabar. Tunggu di pinggir jalan. Lihat-lihat ke kanan dan ke kiri. Jika ada askar (petugas keamanan-red.) atau petugas haji, dekati lalu tunjukkan gelang identitas dan paspornya. Insya Allah, mereka akan membantu memberi petunjuk tentang arah jalan kembali ke pemondokan atau tempat tertentu. Biasanya juga petugas askar atau petugas haji Depag akan mengantarkan ke Sektor atau Kantor Daerah Kerja (Daker) Indonesia yang terdekat,” ungkap Nanang.

Sementara itu, dari Mekah, petugas Kloter 01 JKS, H. Yaya Rusmana melaporkan, jemaah kloter yang dipimpinnya sampai sekarang dalam keadaan sehat. Kalaupun ada yang sakit, itu hanya sebatas batuk-batuk.

“Soal yang tersesat, alhamdulillah, hanya beberapa orang dan sudah bisa kembali ke pemondokannya. Biasalah, yang namanya orang baru tentu masih suka bingung melihat arah jalan. Tapi sekarang sudah beberapa hari di Mekah, alhamdulillah, jemaah kloter 01 semuanya hafal jalanan kepergian ke Masjidilharam dan kepulangannya ke pemondokan,” kata Yaya Rusmana ketika dihubungi “PR” di Mekah, Rabu (28/11).

Yaya Rusmana menyarankan, agar jemaah calhaj selalu bersama dengan rombongan kloternya atau rekan-rekannya yang satu pemondokan. Dengan begitu, insya Allah tidak akan tersesat di jalan.

Ingatlah, ungkap Yaya Rusmana, tanda-tanda identitas petugas haji Indonesia di lapangan. Mereka berbaju biru muda dan celana panjang warna biru tua. Bendera Indonesia tersemat di lengan kiri atas, nama petugas di dada kanan, identitas petugas bertuliskan Arab dalam kotak warna hijau di dada kanan.

“Kalau tidak menggunakan seragam tersebut, petugas haji juga dibekali dengan rompi dan jaket berwarna hijau tua bertuliskan ‘Indonesia’ atau ‘Petugas Haji Indonesia’ di bagian belakang baju, serta bendera Indonesia tersemat di dada kiri,” ujar Yaya Rusmana.

Data lainnya yang menjadi ciri dari petugas haji Indonesia adalah kartu identitas diri yang dikalungkan dengan tali merah bertuliskan Petugas Haji Indonesia Tahun 1428H/2007.

Selain itu, jemaah calhaj juga diimbau untuk tidak membawa uang terlalu banyak di dalam tas paspornya. Bawalah uang secukupnya ketika bepergian.

Calhaj Aceh

Berkaitan dengan persoalan pemondokan yang dialami jemaah calhaj asal Aceh, akhirnya ada solusi. Mereka ditempatkan di daerah Sulaemaniah yang letaknya lebih dekat dengan Masjidilharam. Pertimbangannya agar memudahkan perjalanan calhaj kloter 1 dan 2 Aceh yang pada umumnya berusia lanjut dan sulit berjalan kaki.

“Itu adalah keputusan yang dihasilkan dari perundingan antara koordinator jemaah calhaj Aceh dan Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekah. Jadinya, karena mempertimbangkan banyaknya jemaah calhaj Aceh yang uzur, diputuskan mereka pindah dari lokasi di daerah Sektor 4 di Jumaizah bernomor pondok 123 ke daerah Sektor 2 di Sulaemaniah di nomor pondok 170, 171, dan 172,'' kata Farhan Hamid, anggota Tim Pengawas Haji dari Komisi VIII DPR usai mengunjungi beberapa pemondokan di Mekah, Selasa (27/11). (H. Suherlan/Achmad Setiyaji/MCH Mekah)*** Selanjunya...